Belajar di Kelas Dianmardi

TAHUKAH ANDA?

Budaya belajar sudah bergeser. Dunia semakin dinamis, demikian pula yang terjadi pada dunia akademik. Mahasiswa sebagai pemelajar, dalam paradigma Learner-centered dituntut untuk memiliki keterlibatan aktif dalam  proses belajar. Pengetahuan tidak lagi ditransfer dari dosen sebagai pembelajar kepada mahasiswa, melainkan dibangun oleh para pemelajar secara kolaboratif dan kooperatif dengan kelompok yang saling mendukung. Mahasiswa tidak lagi menjadi penerima informasi yang pasif. Penilaian pun menjadi bagian dari proses belajar sehingga sebagian tanggung jawab dosen memang sebagian berpindah ke mahasiswanya.

Menurut Richard M Felder (1996), tujuan dari pendidikan adalah untuk membantu siswa membangun keterampilan mereka dalam memelajari hal yang disukai dan kurang disukai. Belajar dilakukan dalam berbagai cara, yaitu melihat dan mendengar, bekerja sendiri maupun dalam kelompok, memberikan alasan secara logis dan intuitif, serta mengingat, memvisualisasi dan memodelkannya. Proses belajar akan optimal jika pemelajar berperan aktif. Setidaknya ketika mahasiswa berpartisipasi dalam diskusi atau ketika mereka menyampaikan materi pada temannya, 70% dari seluruh materi belajar akan diingat.

Learner-centered learning adalah model pembelajaran yang menempatkan pemelajar sebagai fokus proses pemelajaran, berlawanan dengan model teacher-centered.

Dalam  pergeseran paradigma belajar ini, berbagai persiapan harus dilakukan oleh dosen maupun mahasiswa. Kedua pihak diharapkan sama-sama aktif dalam mengikuti perkembangan ilmu. Karena dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, maka peran dosen dalam hal ini adalah sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mandiri mahasiswanya. Mahasiswa bertanggung jawab pada apa yang akan dipelajari, bagaimana belajarnya dan bagaimana hasil pemelajaran tersebut dinilai. Umpan balik dari proses belajar ini akan didapatkan dari mahasiswa dan dosen untuk meningkatkan pembelajaran. Secara khusus, dalam tahapan selanjutnya dosen memanfaatkan masukan dari mahasiswa untuk perbaikan mata ajaran.

Dalam Learner-centered Learning, beberapa hal yang dikembangkan antara lain:

  1. Keterampilan belajar (learning how to learn skill)
  2. Keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti berpikir kritis, reflektif, kreatif, analitis dalam menyelesaikan masalah
  3. Keterampilan bekerjasama dalam tim
  4. Keterampilan komunikasi yang efektif

Beberapa metode pembelajaran dengan pendekatan Learner-centered ini diantaranya adalah Problem Based Learning, Collaborative Learning, Project Based Learning, Cooperative Learning, dan lainnya. Kesemuanya adalah metode belajar aktif. Cara belajar aktif ini memiliki kelebihan diantaranya adalah mahasiswa mempelajari materi lebih banyak, memperoleh informasi lebih banyak, kelas menjadi lebih hidup dan menyenangkan, dan memungkinkan mahasiswa belajar dari temannya selain dari dosen.

TERNYATA MEMBACA SAJA ITU NGGAK CUKUP

Sudah belajar keras tapi hasilnya tidak maksimal?

Sudah membaca berbagai macam buku, tapi tetap saja bingung ketika ujian?

Tidak pernah absen dalam kuliah, tetapi masih sulit memahami materi perkuliahan?

Bingung?

Ingin perubahan?

Pada tahun 1960, Edgar Dale berteori bahwa pemelajar akan mengingat informasi yang didapatkan lebih lanjut dengan apa yang mereka “kerjakan” daripada dengan  ”dengar”, “baca” atau “amati”. Penelitiannya ini menghasilkan kerucut pengalaman (Cone of Experience).  Saat ini, “learning by doing”  dikenal sebagai “pengalaman belajar” atau “tindakan belajar”.

Dale dalam penelitiannya menyebutkan bahwa , metode yang paling tidak efektif adalah belajar dari informasi yang disajikan melalui simbol verbal, yaitu mendengarkan kata-kata yang diucapkan. Metode yang paling efektif adalah terlibat langsung melalui pengalaman. Pengalaman langsung ini didapatkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Kerucut Pengalaman Dale ini menunjukkan bahwa hasil terbaik adalah ketika kita belajar menggunakan gaya belajar persepsi. Gaya belajar persepsi adalah gaya belajar yang berbasis sensorik (panca indera). Semakin banyak dan intens penggunaan alat indera dalam proses belajar, maka akan semakin banyak yang dapat diingat.

Pembelajaran secara aktif, menjanjikan 90% materi terserap dan tersimpan baik dalam memori pemelajar. Belajar aktif meliputi merasakan pengalaman, mensimulasikan pengalaman tersebut dan praktek langsung dalam pengalaman tersebut.

Jadi, membaca buku saja tidak cukup. Mendengarkan dosen berbicara saja juga tidak cukup. Lalu bagaimana? Ya harus terlibat dan berperan lebih banyak dalam diskusi, lalu mencoba peran sebagai dosen, melakukan presentasi, mensimulasikan informasi yang di dapatkan. Intinya, harus benar-benar melakukan praktek nyata berkaitan dengan bahan yang dipelajari.

Mau?

Yuk mariiiii… ;)

SAYA MEMILIH METODE PENGAJARAN “PROBLEM BASED LEARNING”

Problem Based Learning (PBL) adalah metode pengajaran yang dipicu oleh masalah yang mendorong mahasiswa untuk “learn to learn”, bekerja kooperatif dalam kelompok untuk mencari solusi permaslahan kehidupan nyata. metode ini mempersiapkan mahasiswa agar berpikir kritis, analitis, dan mampu menetapkan serta menggunakan sumberdaya pemelajaran yang sesuai.

Seperti apakah metode PBL ini? Metode PBL ini mmpunyai ciri-ciri sebagai berikut ini:

  1. Pembelajaran dipicu oleh permasalahan
  2. Masalah didasarkan pada situasi ntaya yang kompleks
  3. Informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tidak diberikan terlebih dahulu
  4. Dilaksanakan dalam kelompok kecil yang tetap
  5. Berfokus pada kecakapan berpikir, diantaranya adalah menyelesaikan maslah, analisis, penetapan keputusan, dan berpikir kritis.
  6. Memerlukan integrasi pengetahuan antar disiplin, kecakapan maupun perilaku
  7. Terjadi “self directed learning” dan “interdependent learning”

Lalu apa bedanya metode PBL dengan  Subject Based Learning? Pada metode kuliah mimbar yang berbasis topik, dosen terlebih dahulu memberikan informasi kepada mahasiswa untuk kemudian dipelajari. Setelahnya, mahasiswa diberi masalah sebagai media untuk menerapkan pengetahuan yang baru diperoleh dari dosen. Hal ini sangat berbeda dengan metode PBL. Pada awal pertemuan, dosen langsung memberikan masalah yang disebut dengan pemicu. Tugas dari mahasiswa adalah mengidentifikasi pengetahuan apa saja yang perlu dimiliki oleh dirinya dan kelompok belajarnya untuk dapat menyelesaikan permasalahan itu. Kemudian mereka saling berdiskusi dan bertukar informasi mengenainya. Kemudian berdasarkan pengetahuan yang didapatkan dari diskusi itulah mahasiswa berlatih untuk mengaplikasikan pengetahuan untuk pemecahan masalah.

Apa peran dosen dalam perkuliahan jika dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi bagi para mahasiswa? Dalam sistem PBL, dosen bertanggungjawab sebagai FASILITATOR perkuliahan yang menyediakan sarana yang menunjang lancarnya proses belajar. Dosen juga berperan sebagai MODEL, yaitu menjadi contoh dalam melakukan kegiatan belajar yang efektif atau dalam mendemonstrasikan tahap pemecahan masalah. Ketiga, dosen berperan menjadi PELATIHyang memberikan petunjuk, umpan balik dan pengarahan dan terakhir, dosen berperan sebagai NARASUMBER yang menjelaskan secara umum tentang pemicu yang diberikan dan sokusinya, menambahkan informasi yang belum lengkap sewaktu presentasi kelas dilakukan dan mengoreksi bila ada kekeliruan dalam diskusi mahasiswa.

Peran mahasiswa dalam PBL adalah menyusun rencana belajar, memberikan penjelasan pada teman sekelompoknya, bertanya untuk mengumpulkan informasi, mengkritik dengan mempertanyakan alasan, merangkum bahan diskusi pada satu kesimpulan, mencatat dan membuat dokumentasi, termasuk meredakan konflik, menurunkan ketegangan antar anggota kelompok.

Pada sistem PBL, mahasiswa dilatih kedewasaannya, dilatih untuk mengembangkan berbagai macam soft skill, dan dibuat lebih berdaya dalam proses belajar. Menarik bukan?

Secara umum, model pembelajaran PBL ini mempunyai ciri yang sama, yaitu:

1. Kelompok kecil

Kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dimana masing-masing kelompok terdiri dari 3-6 orang mahasiswa. Anggota kelompok sebaiknya heterogen dalam hal gender, kemampuan akademik dan kepribadian. Anggota kelompok mendapat kesempatan yang sama untuk berbagi peran. Dalam setiap diskusi kelompok, harus ada pimpinan diskusi yang ditunjuk secara bergantian.

2. Self directed learning

Mahasiswa berperan aktif dalam proses pembelajaran dengan menentukan isu pembelajaran berdasarkan analisis masalah pada soal pemicu. Kemudian mereka mengidentifikasi pengetahuan yang perlu diketahui, yang sudah diketahui dan yang perlu dicari. Setelah itu mahasiswa menentukan sumber pembelajaran serta cara mencarinya. Terakhir, mereka menentukan tugas pembelajaran masing-masing anggota kelompok dan belajar secara mandiri.

3. Interdependent learning

Pada proses belajar, mahasiswa berbagi pengetahuan dengan temannya dalam kelompok. Kemudian mereka mengintegrasikan dan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki untuk menyelesaikan masalah. Pada proses ini, tanggungjawab pembelajarn menjadi tanggung jawab bersama.

4. Self assess

Sistem penilaian mandiri ini membantu mahasiswa untuk memantau kemajuan belajar. Penilaian harus dipahami sebagai kecakapan yang penting dalam proses pembelajaran. Terdapat 5 komponen yang penting dalam penilaian; yaitu:

  1. Apa yang dinilai
  2. Tujuan yang jelas
  3. Kriteria yang terukur
  4. Waktu dan sumber daya yang memadai
  5. Bukti pencapaian tujuan pembelajaran

Seluruh penilaian ini sejatinya akan menjadi bahan refleksi tentang seluruh proses pembelajaran.

5. Kelas floating facilitator

Dalam hal ini dosen berperan sebagai fasilitator, coach, dan model yang memberdayakan mahasiswa untuk memonitor dan menjaga diskusi kelompok yang efektif.

Saya menghargai mahasiswa saya sebagai manusia yang berdaya, yang mampu belajar. Belajar itu adalah proses mencari dan membentuk pengetahuan. Sifatnya aktif, dan caranya spesifik. Saya selalu percaya bahwa mahasiswa saya BISA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s